Pembelajaran
Melalui Media Televisi / Video
1. Konsep
Media Pembelajaran
Media pembelajaran secara umum adalah
alat bantu proses belajar mengajar. Segala
sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemampuan atau ketrampilan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya
proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber,
lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan
isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
Kemudian menurut National Education Associaton(1969)
mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah
sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi
perangkat keras.
Jadi dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sarana fisik yang di
gunakan sebagai sarana menyampaikan pembelajaran, agar pembelajaran dapat
dengan mudah dipahami oleh peserta didik.
- Pengertian dan Fungsi Televisi
Televisi berasal dari
kata tele dan visie, tele artinya jauh dan visie
artinya penglihatan, jadi televisi adalah penglihatan jarak jauh atau penyiaran
gambar-gambar melalui gelombang radio. Televisi sebagai sarana penghubung
yang dapat memancarkan rekaman dari stasiun pemancar televisi kepada para
penonton atau pemirsanya di rumah, rekaman-rekaman tersebut dapat berupa
pendidikan, berita, hiburan, dan lain-lain.
Fungsi televisi sebagai berikut:
- Media informasi dan penerangan.
- Media pendidikan dan hiburan.
- Media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya.
- Media pertahanan dan keamanan.
- Karakteristik Media Televisi
Media video dapat digunakan kapan
saja dan kontrol ada pada pengguna, sedangkan media televisi hanya dapat
digunakan satu kali pada saat disiarkan, dan kontrol ada pada pengelola siaran.
Namun secara umum kedua media ini mempunyai karakteristik yang sama, yaitu:
- Menampilkan gambar dengan gerak, serta suara secara bersamaan.
- Mampu menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas karena terlalu besar (gunung), terlalu kecil (kuman), terlalu abstrak (bencana), terlalu rumit (proses produksi), terlalu jauh (kehidupan di kutub) dan lain sebagainya.
- Mampu mempersingkat proses, misalnya proses penyemaian padi hingga panen.
- Memungkinkan adanya rekayasa (animasi).
- Konsep TV Pendidikan
Televisi adalah sebuah media
telekomunikasi terkenal yang digunakan untuk memancarkan dan menerima siaran
gambar bergerak, baik itu yang monokrom (“hitam putih”) maupun warna, biasanya
dilengkapi oleh suara. Menurut Oemar Hamalik (1985:134) mengemukakan bahwa
televisi sesungguhnya adalah perlengkapan elektronik, yang pada dasarnya sama
dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara.
Televisi pendidikan adalah sebuah
stasiun televisi di Indonesia yang khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi
di bidang pendidikan dan sebagai media pendidikan pembelajaran masyarakat.
Media televisi tidak hanya
mengajarkan tingkah laku dan juga tindakan sebagai stimulus membangkikan
tingkah laku untuk dipelajari dari sumber-sumber lain. Ini menunjukkan bahwa
media televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerfull) bagi permirsanya,
termasuk untuk keperluan pendidikan. Televisi pendidikan Indonesia ini di
selenggarakan dengan dorongan semangnat untuk membantu mencerdaskan kehidupan
bangsa, serta untuk membantu mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk
memperoleh pengajaran.
5.
Media Video Pembelajaran
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:1119) mengartikan video dengan: 1) bagian
yang memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk
ditayangkan pada pesawat televisi. Dalam kamus bahasa indonesia video adalah
teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak. Menurut Smaldino (2008: 374) mengartikannya
dengan “the storage of visuals and their display on television-type screen”
(penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi).
Video
merupakan sarana yang paling tepat dan sangat akurat dalam menyampaikan pesan
dalam bentuk audio-visual (Canning-Wilson, 1998). video akan sangat membantu
pemahaman peserta didik. Peserta didik lebih suka menggunakan video untuk
mempelajari bahasa melalui penayangan film atau hiburan di dalam kelas
(Canning-Wilson, 2000). Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup
(bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya
melibatkan teknologi.
6. Pembuatan Garis Besar Isi Media Siaran
Skenario
pada hakekatnya merupakan naskah lengkap. Suatu naskah lengkap meliputi:
shooting script, story board, script breakdown, shooting schedule.
a. Shooting
Script: naskah video/film dimana dituliskan uraian lengkap setiap adegan
(shot), babak (scene), jenis musik, efek suara (sound effects) hubungan antara
gambar dan suara, sudut pengambilan kamera, jenis shot, lokasi/ruang, property,
sumber visual dan pemain. Secara garis besar format penulisan shooting script
terdiri dari 2 kolom yaitu kolom sebelah kiri (visual) dan kanan (sound). Kolom
sebelah kiri dimaksudkan untuk menuangkan ide yang berupa visual/gambar seperti
sumber visual, pemain, sudut pengambilan kamera, lokasi, property, sedangkan
kolom sebelah kanan untuk menuangkan ide yang berupa suara seperti musik, efek
suara dan narasi baik uraian maupun dialog.
b. Story board
yaitu deretan gambar atau sketsa dari shooting script untuk melukiskan
adegan-adegan utama dari suatu ceritera film/ program video yang akan
diproduksi. Gambar atau sketsa tersebut biasanya dibuat pada kartu ukuran 8 x
12 cm dan ditempel pada planning board. Tujuan pembuatan story board
diantaranya untuk melihat apakah kontinuitas alur ceritera sudah baik,
kesesuaian dengan alur ceritera, ketepatan moment pengambilan gambar.
c. Script
breakdown merupakan bagian dari shooting script dimana setiap adegan
dikelompokkan berdasarkan lokasi, kostum, pemain/aktor, properti, dan peralatan
shooting yang diperlukan.
d. Shooting
schedule atau jadwal shooting berisi pengaturan waktu shooting/pengambilan
gambar dari masing-masing adegan.
7. Penulisan
Naskah Media Televisi/ Video
1. Langkah
penulisan sebuah program video biasanya terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu
Merumuskan ide, Ide sebuah cerita yang akan dibuat menjadi program video dan
televisi dapat diambil dari cerita yang sesungguhnya (true story) atau non fiksi dan rekaan atau fiksi. Banyak sekali
sumber ide yang dapat dijadikan inspirasi untuk menulis sebuah script video dan televisi. Misalnya,
novel, cerita nyata, dan lain-lain. Film JFK
merupakan contoh film yang digali dari peristiwa terbunuhnya salah seorang
presiden termuda di Amerika Serikat. Oliver
Stone, penulis sekaligus sutradara menggunakan banyak sumber informasi
untuk membuat film tersebut sehingga dapat bertutur secara objektif.
2. Riset,
Riset sangat diperlukan setelah Anda telah menemukan sebuah ide yang akan
dibuat menjadi sebuah program. Riset dalam konteks ini adalah suatu upaya
mempelajari dan mengumpulkan informasi yang terkait dengan naskah yang
akan ditulis. Sumber informasi dapat
berupa buku, koran atau bahan publikasi lain dan orang atau narasumber yang
dapat memberi informasi yang akurat tentang isi atau substansi yang akan
ditulis
3. Penulisan
outline, Setelah memahami hasil riset atau informasi yang terkumpul, anda dapat
membuat kerangka atau outline dari
informasi yang akan Anda tuangkan menjadi sebuah script. Outline pada umumnya
berisi garis besar informasi yang akan Anda akan tulis menjadi sebuah script.
4. Penulisan
sinopsis, Menulis naskah harus didasarkan pada rencana yang telah dibuat yang
meliputi outline, synopsis dan treatment. Seorang penulis harus memiliki
kreatifitas dalam mengembangkan treatment menjadi sebuah naskah. Treatment
yang ditulis dengan baik merupakan fondasi yang kokoh yang diperlukan untuk
menulis sebuah naskah. Sebuah treatment harus berisi deskripsi yang
jelas tentang lokasi,waktu, pemain, adegan dan property yang akan direkam ke
dalam program video. Treatment juga menggambarkan tentang sistematika
atau sequence program video atau televisi yang akan diproduksi
5. Penulisan treatment, Langkah selanjutnya
adalah membuat sinopsis atau deskripsi singkat mengenai program yang akan Anda
tulis. Sinopsis dan outline akan membantu
memfokuskan perhatian Anda pada pengembangan ide yang telah Anda pilih
sebelumnya. Penulisan sinopsis harus jelas sehingga dapat memberi gambaran
tentang isi program video atau televis yang akan kita buat
6. Penulisan
naskah, Penulisan sebuah naskah harus didasarkan pada treatment yang
dibuat. Walaupun dalam menulis naskah penulis dapat melakukan perubahan, tapi
sebaiknya perubahan yang dilakukan tidak merupakan perubahan yang bersifat
substantif. Perubahan sebaiknya bersifat kreatif dan tidak mengubah substansi
program. Oleh karena itu treatment harus kokoh dan jelas. Dalam menulis Penulis
harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan naskah yang benar.
7. Review naskah, Draf naskah yang telah selesai
ditulis perlu ditelaah untuk melihat kebenaran substansinya dan juga cara
penyampaian pesannya. Draf naskah harus ditelaah oleh orang yang mengerti
substansi isi program (content expert) dan ahli media (media specialist).
8. Finalisasi naskah merupakan langkah akhir
sebelum naskah diserahkan kepada produser dan sutradara untuk diproduksi.
Naskah final merupakan hasil revisi terhadap masukan-masukan yang diberikan
oleh content expert dan ahli media.
8. Media
TV/ Video sebagai Sarana Pendidikan Luar Sekolah
Menurut Dwyer, video mampu merebut 94% saluran
masuknya pesan atau informasi kedalam jiwa manusia melalui mata dan telinga
serta mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka
lihat dan dengar dari tayangan program. Pesan yang disampaikan melalui media
video dapat mempengaruhi emosi yang kuat dan juga dapat mencapai hasil cepat
yang tidak dimiliki oleh media lain.
Siaran pendidikan melalui televisi bagaimanapun tetap
menarik bagi anak-anak dan dapat membantu anak-anak belajar yang lebih baik.
Hal ini karena televisi mampu menyajikan bahan yang bergerak dinamis sehingga
merangsang perhatian anak-anak. Dengan demikian anak-anak lebih tertarik dan
mudah mencernakannya.
Belajar melalui televisi mempunyai keuntungan ganda. Pertama, dapat mempelajari ilmu
pengetahuan yang telah dirancang, dan kedua,
mampu meningkatkan daya apresiasi anak-anak. Ruang kelas, yang menggunakan
televisi sebagai media pendidikan, biasanya menampung sejumlah 40-50 oarang
murid. Pada jumlah murid sebanyak itu masih mungkin mengamati acara televisi
dengan baik. Ini berarti bahwa proses belajar mengajar tidak terganggu. Apabila
anak-anak belajar melalui televisi, mereka tidak hanya mengamati acaranya
dengan tenang, melainkan mereka juga memperhatikan perubahan-perubahan gambar
yang terjadi. Demikian pula merkeka memperhatikan susunan kata-kata dan teks
yang ada.
DAFTAR RUJUKAN
http://dillaide.blogspot.co.id/2015/06/pembelajaran-melalui-media-televisi.html
( di akses, 19 april, pukul 18.00 WIB )
http://myblogezzy.blogspot.co.id/2015/05/pembelajaran-melalui-media-tv-dan-video_26.html
( di akses, 19 april, pukul 19.00 WIB )
http://silviyuliandani.blogspot.co.id/2015/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html
( di akses, 19 april, pukul 19.10 WIB )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar